Kota Kinabalu: ‘Dicandai’ Sungai
PERJALANAN darat Sabah-Serawak-Brunai Darussalam yang ‘cantik’ sungguh sangat menyenangkan. Hutan, ya sepanjang jalan disuguhi hutan perawan atau bentangan laut menawan. Delapan kali pemeriksaan, bisa jadi membosankan, tetapi sepadan dengan suguhan alam. Sopir bus memang sudah berisyarat akan ada kemacetan di perbatasan Serawak-Brunai Darussalam, tetapi tidak separah ini. Maklum hari libur. Dan, KeKe lagi giat-giatnya membangun kepariwisataan.
Kami menangguk pengalaman melapor ke Pejabat Emigrisen di setiap pelintasan. Keluar Sabah distop kantor imigrasi Serawak seperti juga masuk Brunai. Celakanya, ada wilayah Brunai menyela wilayah Serawak. Lebih celaka, perbatasan ditandai sungai selebar 60 meter. Ini pokok soalnya. Tidak ada jembatan. Menyeberang menggunakan kapal fery yang dalam hitungan menit sampai ke seberang.
Saya jadi ingat ketika pertama berkeliling Kalimantan puluhan tahun lalu. Dimana-mana menyeberang sungai memakai perahu. Bagaimana mungkin negara kaya Malaysia dan Brunai tidak mampu membangun jembatan ‘sejengkal’ sementara di lain tempat membangun jembatan layang agar tidak ada kemacetan. Oma Irama: … Terlaluuuuuuu.
Antrian mencapai 5 km. Saya berjalan kali sekitar 3 km, sendirian untuk mencari tahu. Melapor ke bagian imigrasi lalu meneruskan perjalanan hingga sampai ke bibir sungai. Bedebah. Gara-gara sungai secuil menyiksa pelancong.
Memuaskan mata memandangi hutan, serasa berada di kampung, Muaralabuh, Solok Selatan, dan mengangumi kewirausahaan warga Brunai. Rumah mereka bagus-bagus dengan mobil di garasi, tetapi tidak gengsi memanfaatkan ‘hari kemacetan’ berjualan minuman dan makanan. Lalu, berdiskusi dengan petugas (polis), warga, dan dengan penumpang.
Kebetulan bersua dengan pegiat NGO yang bersekolah di UKI Jakarta. Ramai. Dia aktivis Sabah dan Serawak. Ngeri mendengar cerita dan cita-citanya. Sembari memuji-muji Indon dia berandai-andai, kalaulah suasana politik seperti di Indon, Sabah dan Serawak akan lebih kencang maju. Pemerintah (Malaysia) membungkam warganya. Saya minta izin berlalu.
Alkisah, antara Malaysia dan Brunai memang tidak akur. Persoalan sungai sedang di sidang Mahkamah Internasional. Konon, Brunai tidak mau lagi kehilangan wilayahnya. Malaysia main klaim saja. Banyak wilayah Brunai yang diambil. Wajar, ada enklave Brunai di tengah wilayah Serawak.
Tidak dapat tidak ingatan ke Sipadan yang diagungkan sebagai tempat menyelam paling aduhai di dunia. Yang lebih mengegetkan, entah benar entah tidak, ada kerja sama militer antara Brunai dan Singapura. Tentara Singapura ‘bermarkas’ di wilayah yang dikurung Sabah. Entahlah.
Tidak seorang pun penumpang atau pelancong menyukai kondisi tersebut. Menganggu, menyebalkan, tapi apa yang bisa diperbuat? Urusan kedua negara menjadi begitu rumit. Simpulannya, kalau hari libur, jangan berniat melancong melalui jalan darat. Lalu? Lewat laut melalui Labuan. Labuan yang dijadikan semacam Hongkong Malaysia. Apa pula itu? Silakan ikuti serial tulisan berikut.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Terus terang belum pernah kesana…kelihatan asyik juga situasinya.
SALAM KENAL dari kota Kendari, Sultra…
BTW, saya berkunjung dari blognya Kang Achoey..semoga berkenan berbagi…Salam.
Tusuda: Selamat berkunjung … silakan lihat http://www.webersis.com